Mengatasi Penyakit Dalih

May 15, 2008 at 6:14 am Leave a comment

Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang
yang punya kebiasaan suka membuat alasan, begitu kata George
Washington Carver. Daripada mencari jalan keluar, mereka memilih
untuk membuat 1001 dalih mengenai kegagalan mereka. Alhasil,
kesempatan belajar pun terlewatkan begitu saja.

Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz
menjelaskan mengenai penyakit pikiran yang mematikan alias penyakit
dalih (excuisitis). Orang-orang gagal senantiasa berdalih mengenai
kegagalan mereka. Penyakit dalih tersebut biasanya muncul 4 bentuk,
yaitu: dalih kesehatan, dalih inteligensi, dalih usia dan dalih
nasib.

Dalih kesehatan biasanya ditandai dengan ucapan, “Kondisi
fisik saya tidak sempurna”, “Saya tidak enak badan”, “Jantung saya
lemah”, dan sejenisnya. Orang sukses tidak pernah menganggap cacatnya
itu sebagai hambatan. Saya punya sahabat dekat yang menderita polio
namun dikenal sebagai dokter spesialis ginjal sukses dan murah hati.

Sejumlah besar tokoh-tokoh dunia bahkan punya cacat fisik.
Presiden Amerika ke-32 Franklin Delano Roosevelt menderita polio,
Shakespeare lumpuh, Beethoven tuli, Napoleon Nonaparte memiliki
postur tubuh yang sangat pendek.

Dalih inteligensi diitandai dengan ucapan, “Saya kan tidak
pintar”, “Saya kan bukan rangking teratas”, “Dia lebih pandai”, dan
sejenisnya. Inilah dalih yang paling umum ditemukan. Tanpa bermaksud
mengecilkan arti sekolah, saya ingin mengatakan kepa Anda bahwa tidak
perlu jadi profesor agar Anda bisa sukses. Selanjutnya, dalih usia
yang ditandai dengan ucapan, “Saya terlalu tua”, “Saya masih terlalu
muda”, “Biarkan yang lebih tua yang duluan”, dan sejenisnya. Padahal
tidak ada batasan usia dalam meraih sukses. Kolonel Sanders memulai
usahanya di usia 65 tahun. Berikutnya adalah dalih nasib, misalnya
dengan mengatakan , “Aduh, nasib saya memang selalu jelek”, “Itu
sudah nasibku”, “Itu memang takdir” Memang amat mudah untuk selalu
menyalahkan nasib. Padahal nasib kita ditentukan oleh kita sendiri.
Tuhan telah memberikan hidup dengan sejumlah pilihan.

Lihatlah betapa banyaknya orang yang memilih berdiam diri
daripada melakukan apa yang bisa mereka perbuat. Padahal apapun yang
layak diraih layak diupayakan dengan seluruh kemampuan yang kita
miliki. Sayangnya, potensi diri ini kerap hanya terkubur karena
kebiasan kita membuat dalih jika apa yang kita kerjakan tidak
berjalan sesuai harapan kita atau hasilnya tidak segera kelihatan.
Gaya hidup modern yang serba instant secara tidak langsung membuat
kita sering mengharapkan hasil yang instant pula. Kita kepengen
sekali makan durian tanpa mau menanam, menyiram, memupuki dan merawat
pohonnya.

Saya sendiri sempat terkejut membaca cerita tentang ilmuwan
besar seperti Albert Einstein yang pernah diusir dari sekolah karena
dianggap lamban. Ia bahkan mendapat nilai buruk dalam pelajaran
bahasa Yunani karena ingatannya yang lemah. “Tak peduli apa pun yang
kamu lakukan, kamu takkan dapat melakukan apa-apa,” kata gurunya.

Saya juga teringat kepada Thomas Alva Edison yang hanya
bersekolah beberapa bulan namun tercatat sebagai pencipta terbesar
sepanjang jaman dengan lebih dari 1.000 hak paten. “Saya mempunyai
banyak ide tapi hanya sedikit waktu,” ujarnya. Edison gagal di
sekolah. Gurunya merasa Edison tidak punya minat belajar, pemimpi dan
mudah sekali terpecah konsentrasinya. Yang sungguh membuat saya
terharu adalah sikap Ibu Edison terhadap putranya. Ia terus mengajari
Edison di rumah dan setiap kali Edison gagal, ibunya memberi harapan
dan mendorongnya untuk terus berusaha.

Kalau orang gagal senantiasa berkata “itu tidak mungkin
berhasil” maka orang sukses lebih suka berkata “mengapa tidak
mencobanya dulu ?”. Daripada membuat alasan, orang sukses memilih
untuk mencari cara mewujudkan impian mereka. Daripada berdiam diri
dan menunggu datangnya kesempatan, mereka memilih pergi keluar dan
menemukan kesempatan itu. Bahkan mereka mampu menciptakan kesempatan
dalam kesempitan. E.M. Gray menegaskan, orang-orang sukses mempunyai
kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak suka dilakukan orang gagal.
Jika saat ini Anda masih suka membuat dalih, buatlah komitmen untuk
mengubah kebiasaan itu. Jangan biarkan potensi diri Anda dibelenggu
oleh dalih-dalih Anda. Ingat selalu nasihat Theodore
Roosevelt, “Lakukan apa yang Anda bisa, dengan apa yang Anda miliki,
di mana pun Anda berada.”

Sebagai akhir, ijinkanlah saya membagikan kepada Anda sebuah
syair dari Afrika berjudul Perlombaan Saat Matahari Terbit. Setiap
pagi di Afrika, seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus berlari
lebih cepat daripada singat tercepat. Jika tidak, ia akan terbunuh.
Setiap pagi seekor singa bangun, ia tahu bahwa ia harus berlari lebih
cepat daripada rusa terlamban. Jika tidak, ia akan mati kelaparan.
Tidak penting apakah Anda adalah sang rusa atau sang singa. Saat
matahari terbit, Anda sebaiknya mulai berlari.

Sumber: Mengatasi Penyakit Dalih oleh Paulus Winarto.

Entry filed under: Kisah Motivasi. Tags: , , , , , , , .

Kutipan Bijak #1 Berkembang Laksana Udang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

May 2008
M T W T F S S
     
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: